Rendezvous

Unforgettable Momment’s

Term Limits

Tulisan ini tentang sebuah novel karya Vince Flynn yang baru saja saya baca judulnya seperti yang terulis di atas “Term Limits”. Saya membaca versi inggrisnya, secara keseluruhan saya menyukai buku yang terbit tahun 1999 dan merupakan “the new york times bestseller”.

Buku ini diawali dengan sebuah quatation Thomas Jefferson dari deklarasi kemerdekaan Amerika, yang bunyinya seperti dibawah ini:  …Goverments are institud among Men, deriving their just Powers from the Consent of the Governed, that whenever any Form of Goverment becomes destructive of these Ends, it is the Right of the People to alter or to abolish it. and to institute new Goverment… it is their Right, it is their Duty, to throw off such Goverment, and to provide new Guards for their future Security.

Sudah bisa dibayangkan, buku ini bercerita tentang politik dan pemerintahan di Amerika yang melibatkan Presiden, anggota senat, anggota kongres serta badan intelejen. Ceritanya dimulai dengan kisah pembunuhan 3 orang senator senior Amerika disaat yang hampir bersamaan. Kematian 3 orang senator senior ini membuat resah banyak orang termasuk sang Presiden. Kematian mereka terjadi di saat-saat terakhir pengajuan revisi budget oleh Presiden. Tentunya Presiden dan tim-nya kelabakan karena upaya mereka meloloskan budget tersebut ditingkat senat terancam gagal dan akan berpengaruh besar terhadap rencana kampanye ulang presiden ditahun berikutnya.

Buku ini menggambarkan bagaimana ambisi dan arogansi pribadi yang berkomplot membahayakan keamanan negara. Pembunuhan terhadapa senator tersebut dilakukan karena penilaian kinerja mereka yang buruk, yang hanya mengutamakan kesenangan pribadi, memperkaya diri dan melupakan tugas dan tanggung jawab mereka terhadap rakyat Amerika. Dengan alasan para senator tersebut membawa Amerika kepada kejatuhan, maka pembunuhan itu dilakukan sebagai warning kepada pemerintah dan senat untuk memperbaiki kinerja. Para pembunuh mengancam akan melakukan pembunuhan lagi dan bahkan Presiden menjadi sasaran berikutnya apabila tuntutan perubahan tidak segera dilakukan.

Konflik terbangun dengan baik dibuku setebal 612 halaman ini. Proses membuka identitas para pembunuh melibatkan semua badan intelijen, CIA, FBI, Secret Service dan NSA. Tentunya terjadi konflik kepentingan disini, ketika ego masing-masing lembaga mengemuka, diterangkan secara jelas oleh Vince Flynn. Ini bisa terjadi karena support informasi dari beberapa anggota FBI dan US Navy Seal ketika penulisan buku dilakukan.

Intinya adalah kegeraman ‘warga amerika’ melihat tindak tanduk pemerintahan yang tidak membawa mimpi Amerika. Pembunuhan senator dilakukan oleh mantan anggota Navy Seal yang bersekutu dengan salah seorang pengusaha yang nasionalis dan idealis. Dijelaskan dalam buku bahwa sudah sejatinya orang-orang SEAL dan Komando tidak menyukai politisian. Ada alasan yang menarik yang diungkapkan, yaitu mereka diutus untuk berperang di negara lain, diperintahkan membunuh orang penting negara lain dengan alasan membela kedaulatan Amerika akan tetapi politisi Amerika sendiri membawa Amerika pada kejatuhan. Itulah sebabnya mereka berani membunuh di negeri sendiri dengan alasan membela negara.

Sebagaimana khas novel, disinipun dibumbui romantisme antara tokoh utama, seorang anggota kongres yang masih muda, tampan, idealis, mantan anggota SEAL, dengan seorang wanita reporter. Novel ini berakhir manis, komplotan perusak negara yang didalangi oleh Direktur NSA dan Kepala Staff Gedung Putih kena ganjaran untuk perbuatan mereka berupa kematian dan pengasingan. Kasus pembunuhan senator-senator diawal cerita pun ditutup dengan tidak disebarluaskannya identitas pembunuh oleh CIA dan FBI. Sang pembunuh dianggap ‘pahlawan’ meskipun pada akhir cerita dia menyerahkan diri ke CIA demi membebaskan sang sahabat si anggota kongres muda itu dari keterlibatan cerita pembunuhan.

February 1, 2009 - Posted by sherly | Uncategorized | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment