Rendezvous

Unforgettable Momment’s

Resiko Berinvestasi

Krisis keuangan global ternyata berimbas ke saya yang pada 3 tahun terakhir mencoba untuk berinvestasi lewat pasar modal. Saya bukan masuk dalam kategori kaum ‘the have’ yang menginvestasikan duit karena memang sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Saya hanyalah orang biasa dengan penghasilan jauh dari cukup untuk hidup ala selebritis Indonesia, namun saya memiliki keinginan untuk belajar berinvestasi, mencoba menginvestasikan uang yang tidak seberapa ke program investasi yang ditawarkan oleh salah satu bank, yang menurut salesnya program yang ditawarkan tersebut dijamin sepenuhnya oleh perusahaan investasi besar yang ada di negeri Paman Sam, yang direkturnya adalah adik dari salah satu Presiden Amerika.

Saya pun tertarik dan pada akhirnya mengikuti program investasi yang ditawarkan tersebut. Setelah memutuskan untuk ikut, saya harus menentukan dimana sebaiknya dana yang saya investasikan untuk diletakkan. Ada beberapa pilihan, ada pilihan fixed income yang artinya dana saya akan bermain di instrument obligasi atau ‘equity’ untuk instrumen saham. Kalau saya orang yang higk risk taken maka saya cocok untuk berinvestasi di pasar saham, sedangkan apabila saya memilih untuk bermain aman maka sebaiknya berinvestasi di instrument obligasi. Begitulah kira-kira penjelasan dari sales-nya. Mau untung besar tapi juga beresiko besar maka pilihannya saham. Mau untungnya kecil dan lama maka pilihlah obligasi. Fluktuasi ‘equity’ lebih tinggi dibandingkan dengan ‘fixed’. Pada waktu itu saya tertarik dengan equity tapi terlalu takut jika gagal. Saya akhirnya memilih jalan tengah. Memilih kedua-duanya. Dana yang saya investasikan akan dibagi menjadi 50% fixed dan 50% Equity. Sudah sekitar 3 tahun saya dealing dengan program ini dengan masa kontrak 6 tahun. Mekanismenya adalah saya harus post sejumlah uang setiap tahunnya sesuai dengan jumlah yang disepakati bersama. Jumlah ini bisa dinaikkan oleh investor tergantung kesiapan dana yang dimiliki.

Awal October 2008, dunia dikejutkan dengan berita kebangkrutan perusahaan-perusahaan investasi besar kelas dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut kebanyakan berasal dan berpusat di Amerika Serikat. Perusahaan sekelas Lehman and Brother pun tumbang. Imbasnya ke perusahaan investasi dan bank-bank yang menjual produk dari Lehman and Brothers, maupun lainnya. Kekacauan mulai terjadi, sampai pada suatu hari melalui media massa saya mendengar berita perusahaan tempat saya menginvestasikan uang saya, yang berada di Amerika juga turut terkena imbas dan bangkrut. Pada saat itu saya terkena sindrom panik. Sayapun menghubungi kantor perwakilan perusahaan tersebut untuk menanyakan isu kebangrutan tersebut. Saya sangat khawatir dengan uang yang telah saya investasikan selama 3 tahun itu ludes tak berbekas. Meskipun nilai nominal yang saya investasikan tak seberapa, namun tetap saja membuat saya khawatir. Bagaimanapun niat saya berinvestasi meskipun dengan modal minim adalah untuk mendapatkan keuntungan. Mana ada sih orang yang berinvestasi mau rugi?

Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk mengambil dana yang saya investasikan, namun rencana tersebut saya batalkan, karena menurut saya inilah resiko berinvestasi. Saya adalah pemula, dan saya sedang belajar. Pada saat itu saya sempat menanyakan saldo akhir saya selama masa krisis ini. Dari total dana yang saya investasikan selama 3 tahun ini, saya sudah kehilangan hampir 30%nya. Kalau dihitung secara kasar saat ini, investasi saya tidak ada untungnya sama sekali. Malahan uang tersebut semakin berkurang. Inilah yang menjadi salah satu alasan saya tidak men-terminated program investasi ini. Karena kalau saya ambil saat ini maka saya telah rugi sekian banyak rupiah. Sedangkan jika saya tahan maka kemungkinan uang saya kembali dan mendapatkan untung juga masih ada. Saya masih yakin bahwa kondisi keuangan global akan mengalami perbaikan. Hal ini sudah terbukti dengan campur tangan pemerintah negara-negara maju untuk memperbaiki situasi.

Yang saya lakukan hanya berdoa dan berharap..

“High risk high return, Low risk low return”

October 17, 2008 - Posted by sherly | Uncategorized | | 4 Comments

4 Comments »

  1. banya doi dank ngana mace !!
    uhuyy …
    =D

    Comment by ella | October 17, 2008

  2. Tatigo tre’ qta..!
    Banya doi bgm lei.. napa so abis plang2.. hehhee

    Comment by sherly | October 17, 2008

  3. huduh…
    investasi in ke gw ajaaa oiiii
    dijamiiin….utuh

    Comment by ikacleo | October 23, 2008

  4. Saya jg pernah melakukan hal yang sama. Memang dengan jumlah yang kecil. Awalnya sih nilai sahamnya naik terus, hampir 15% dalam waktu 4 bulan. Dan ketika krisis kredit perumahan di amerika mulai terjadi maka nilai saham yang saya beli mulai jatuh dan repotnya tak tertahankan. Saya sempat bingung itu dana mau ditarik atau di biarkan saja hingga keadaan akan membaik lagi.
    Dikantor ada sebuah motto yang selalu bisa dibaca ketika akan masuk ke areal kantor yang mengatakan bahwa pecundang adalah orang yang menyerah terlalu cepat, sementara itu saya juga sering membaca bila sudah tak yakin keluarlah secepatnya untuk mengurangi kerugian, coba, bingungkan.
    Akhirnya setelah saya timbang-timbang plus bahwa situs untuk mengakses nilai saham saya yang uptodate sudah tidak dapat diakses lagi, maka sayapun keluarlah.
    Dan ketika dicairkan dana yang saya tarik tinggal sekitar 65% saja. Dasar lagi apes, hehe.

    Comment by kincana | December 18, 2008


Leave a comment